Ini adalah 3 buku terbaru dari saya dan tim pengembangan rumah sains ilma, yang merupakan bagian dari total 12 buku kegiatan sains untuk SD. 9 buku lagi akan diterbitkan secara bertahap
Adventurer 1 adalah buku kegiatan sains untuk siswa kelas 1-2 SD semester 1
Discoverer 1 adalah buku kegiatan sains untuk siswa kelas 3-4 SD semester 1
Forerunner 1 adalah buku kegiatan sains untuk siswa kelas 5-6 SD semester 1
Setiap buku terdiri dari 18 kegiatan, dengan rincian :
13 kegiatan berupa eksperimen sains
1 kegiatan berupa pembuatan peraga/mainan sains
1 kegiatan berupa pemecahan masalah
1 kegiatan berupa proyek sains dan
2 kegiatan bonus untuk eksperimen di rumah
Buku-buku ini kami harapkan dapat menjadi buku kegiatan bagi program ekskul sains , sehingga sekolah dapat melaksanakan kegiatan ekskul sains dengan menggunakan sumber daya internal. Dengan cara ini diharapkan ekskul sains dapat menjadi lebih murah lagi, sehingga terjangkau oleh lebih banyak anak.
Selain buku, terdapat pula program dukungan seperti pelatihan untuk guru, dan penyediaan kit eksperimen. Untuk informasi yang lebih mendalam, mohon hubungi nomor ilma : 32042545 atau 74631039
Bagi yang memerlukan sampel halaman untuk mempelajari isi buku-buku ini secara lebih mendalam, mohon agar mengirimkan email ke saya : bang_muzi@yahoo.com.au atau muzi@cakrawala-ilma.com, atau kakmuzi@gmail.com.
Bagi yang tertarik untuk memasarkan buku-buku tersebut sila hubungi salah satu email tadi. Untuk informasi harga sebelum diskon, Rp 20,000/buku.
Semoga kita semakin dekat kepada Indonesia yang memiliki budaya berpikir ilmiah, kreatif dan inovatif.
RUMAH SAINS ILMA
Jalan TPU Parakan No. 148
Pamulang - Tangerang Selatan
Banten
Telp. 021-32042545
- akan tiba saatnya berpikir ilmiah menjadi budaya bangsa ini
Pamulang - Tangerang Selatan
Banten
Telp. 021-32042545
- akan tiba saatnya berpikir ilmiah menjadi budaya bangsa ini
Petuah Minggu Ini :
"Obat penawar terbaik dari segala jenis kegagalan adalah : coba lagi"
- tak ingat, siapa yang pertama kali menyampaikan petuah ini
- tak ingat, siapa yang pertama kali menyampaikan petuah ini
Rabu, 17 Juni 2009
Botol Bocor
SEBELUM BERAKSI
Siapkan botol plastik bekas obat kumur. Buatlah 2 lubang pada dindingnya. Lubang pertama sekitar 1 sentimeter dari bawah. Ukurannya sebesar paku. Kaubisa minta tolong orang dewasa untuk membuat lubang ini dengan menggunakan paku yang dipanaskan. Lubang kedua seukuran jarum. Berada sekitar 2 sentimeter dari atas.
Masukkan botol ke dalam ember atau bak berisi air. Selagi botol berada di dalam air, pasang tutupnya. Keluarkan botol dari ember atau bak. Air akan keluar dari lubang besar di bawah. Tetapi jika lubang kecil kaututup dengan jarimu, air berhenti mengalir.
SAAT BERAKSI
Kau sudah tahu rahasianya. Jadi, datangi temanmu sambil membawa botol yang sudah kaupersiapkan. Ingat, jarimu harus menutupi lubang kecil. Katakan padanya, kaupunya botol ajaib. Tunjukkan botol itu mempunyai lubang di dindingnya, tapi ajaib air tidak keluar dari lubang itu.
Minta temanmu untuk memegang botol itu. Apa yang terjadi? Karena temanmu tidak menutup lubang kecil di bagian atas, maka air mengucur.
LHO, KOK BISA?
Air tidak bisa keluar karena di tahan oleh udara di luar botol. Kita tahu udara ada di mana-mana dan menekan ke segala arah dengan tekanan yang besar. Ketika lubang botol di sebelah atas terbuka, maka ada udara yang menekan melalui lubang ini dan membuat air memperoleh bantuan untuk mengalir keluar melalui lubang besar di dinding botol sebelah bawah.
Catatan :
Ini bagian dari buku baru saya yang judul sementaranya "Lho, Kok Bisa?
Siapkan botol plastik bekas obat kumur. Buatlah 2 lubang pada dindingnya. Lubang pertama sekitar 1 sentimeter dari bawah. Ukurannya sebesar paku. Kaubisa minta tolong orang dewasa untuk membuat lubang ini dengan menggunakan paku yang dipanaskan. Lubang kedua seukuran jarum. Berada sekitar 2 sentimeter dari atas.
Masukkan botol ke dalam ember atau bak berisi air. Selagi botol berada di dalam air, pasang tutupnya. Keluarkan botol dari ember atau bak. Air akan keluar dari lubang besar di bawah. Tetapi jika lubang kecil kaututup dengan jarimu, air berhenti mengalir.
SAAT BERAKSI
Kau sudah tahu rahasianya. Jadi, datangi temanmu sambil membawa botol yang sudah kaupersiapkan. Ingat, jarimu harus menutupi lubang kecil. Katakan padanya, kaupunya botol ajaib. Tunjukkan botol itu mempunyai lubang di dindingnya, tapi ajaib air tidak keluar dari lubang itu.
Minta temanmu untuk memegang botol itu. Apa yang terjadi? Karena temanmu tidak menutup lubang kecil di bagian atas, maka air mengucur.
LHO, KOK BISA?
Air tidak bisa keluar karena di tahan oleh udara di luar botol. Kita tahu udara ada di mana-mana dan menekan ke segala arah dengan tekanan yang besar. Ketika lubang botol di sebelah atas terbuka, maka ada udara yang menekan melalui lubang ini dan membuat air memperoleh bantuan untuk mengalir keluar melalui lubang besar di dinding botol sebelah bawah.
Catatan :
Ini bagian dari buku baru saya yang judul sementaranya "Lho, Kok Bisa?
Senin, 30 Maret 2009
Sebuah Luka di Suatu Lomba Percobaan Sains
Jikalau Anda sempat menyaksikan lomba percobaan sains tingkat SD, baik yang berskala nasional maupun regional, maka boleh jadi Anda akan merasa bungah. Sebentuk Indonesia yang gemilang dan mulia tampak semakin mendekat, tinggal belasan tahun saja jaraknya. Betapa tidak, percobaan-percobaan sains yang disajikan oleh anak-anak yang tak sampai 13 usianya itu, begitu berkualitas. Begitu dewasa.
Semestinya, perasaan yang sama jugalah yang saya rasakan ketika di suatu hari yang cerah menyaksikan lomba percobaan sains tingkat SD. Tetapi tidak. Di antara cukup banyak karya canggih dari anak-anak belia itu, saya malah merasa nyeri. Pemandangan seorang anak yang tergagap-gagap menjelaskan peraga sainsnya yang “terlalu dewasa”, membuat mata saya mengabur. Ya, saya tahu, ada air mata yang mulai menghangat di kedua kelopak mata saya.
Lalu, seorang kawan bercerita bagaimana seorang dewasa memarahi seorang anak peserta lomba, lantaran tak berhasil menjelaskan karyanya kepada dewan juri dengan lancar. Ya, Tuhan. Nyaris tak ada bedanya dengan orang tua yang suka ribut mengarah-arahkan anaknya saat lomba mewarnai gambar. Kita, orang dewasa, berhutang maaf yang besar kepada anak-anak yang diperlakukan seperti itu.
Perhatian saya kemudian terhenti kepada sebuah karya kimia yang menggoda : membuat sejenis gas dari soda kaustik alias soda api atau Natrium Hidroksida. Seorang anak SD memeragakan eksperimen dengan menggunakan bahan sangat berbahaya semacam soda api? Saya tak habis pikir. Apa yang sesungguhnya tengah menimpa atau ditimpakan kepada anak-anak kita?
Seberapa jauhkah sebenarnya intervensi orang dewasa (orang tua atau guru) terhadap karya sains seorang anak SD? Saya tak punya jawabannya. Akan tetapi, merujuk kepada sejumlah pemandangan yang saya amati, intervensi itu dapat saya duga besar. Bahkan di beberapa contoh, sangat besar. Pernah di suatu lomba seorang anak ditanya oleh dewan juri soal siapa yang membantunya membuat peraga sains. Si anak menjawab, “ayah dan pak guru”. Sang juri tersenyum maklum dan lanjut bertanya, “bagian mana dari peraga ini yang kamu buat?” Si anak menjawab jujur, “Tidak ada”.
Pernah saya jumpai pula, intervensi (atau dugaan intervensi) itu terasa membuat seorang anak kelas 2 SD menjadi robot perekam suara orang dewasa. Anak ini, dalam suatu lomba, memeragakan sebuah perangkat elektronik yang dioperasikan dengan menggunakan energi yang berasal dari beberapa buah lemon. Dengan mimik dan suara yang lucu ia menjelaskan, “Energi dari lemon ini bisa membantu Pak Presiden mengatasi krisis energi...” Ya, para penonton yang mendengar berdecak kagum. Sebagian bertepuk tangan. Sebuah pertunjukan yang menyenangkan, memang.
Panggung pertunjukan. Itukah yang sesungguhnya tengah terjadi pada lomba percobaan sains di negeri ini? Saya kuatir begitu. Lomba percobaan sains tampak seperti sebuah proyek orang dewasa untuk segera menyaksikan anak-anak ajaib bermunculan.
Saya berdoa dan berharap sungguh bahwa dugaan-dugaan intervensi itu adalah salah adanya. Bahwa luka yang terasa itu, hanyalah luka yang mengada-ada. Bahwa nyeri itu sekedar ilusi saja.
Akan tetapi, jika benar, maka ini sungguh merisaukan hati. Ia tak ubahnya kontes idola yang hampir setiap hari menari-nari di layar kaca. Kita tak akan memetik apa-apa. Kita tak akan tumbuh menjadi bangsa dengan karakter sains yang kuat. Kita tak bakal berevolusi menjadi bangsa yang inventif.
Padahal jika kita, para orang dewasa ini, bersabar untuk membiarkan anak-anak tumbuh dalam aktivitas sains yang bertahap dan wajar sesuai usia mereka, maka saya yakin kita akan berada di garis depan sains dan teknologi dunia kelak. Kita hanya perlu menyediakan suasana bermain sains yang menyenangkan, yang memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dunia di sekitar mereka. Kita hanya perlu mendampingi anak-anak untuk secara konsisten menaiki anak-anak tangga dengan kaki yang kokoh. Kita hanya perlu untuk berani menolak keinginan-keinginan instan.
Terakhir, ingin saya ceritakan perjumpaan saya dengan seorang guru di hari perlombaan sains itu. Kala itu Ibu guru tersebut berujar kira-kira begini, “Wah, karya dari sekolah lain canggih dan luar biasa ya. Karya murid-murid saya terlalu sederhana dan tampak kecil.” Menanggapi ujarannya yang beraroma gundah itu saya sampaikan, “Menang kalah tidak penting ibu. Justru ibu dan para murid sudah berada di jalur yang tepat.”
Semestinya, perasaan yang sama jugalah yang saya rasakan ketika di suatu hari yang cerah menyaksikan lomba percobaan sains tingkat SD. Tetapi tidak. Di antara cukup banyak karya canggih dari anak-anak belia itu, saya malah merasa nyeri. Pemandangan seorang anak yang tergagap-gagap menjelaskan peraga sainsnya yang “terlalu dewasa”, membuat mata saya mengabur. Ya, saya tahu, ada air mata yang mulai menghangat di kedua kelopak mata saya.
Lalu, seorang kawan bercerita bagaimana seorang dewasa memarahi seorang anak peserta lomba, lantaran tak berhasil menjelaskan karyanya kepada dewan juri dengan lancar. Ya, Tuhan. Nyaris tak ada bedanya dengan orang tua yang suka ribut mengarah-arahkan anaknya saat lomba mewarnai gambar. Kita, orang dewasa, berhutang maaf yang besar kepada anak-anak yang diperlakukan seperti itu.
Perhatian saya kemudian terhenti kepada sebuah karya kimia yang menggoda : membuat sejenis gas dari soda kaustik alias soda api atau Natrium Hidroksida. Seorang anak SD memeragakan eksperimen dengan menggunakan bahan sangat berbahaya semacam soda api? Saya tak habis pikir. Apa yang sesungguhnya tengah menimpa atau ditimpakan kepada anak-anak kita?
Seberapa jauhkah sebenarnya intervensi orang dewasa (orang tua atau guru) terhadap karya sains seorang anak SD? Saya tak punya jawabannya. Akan tetapi, merujuk kepada sejumlah pemandangan yang saya amati, intervensi itu dapat saya duga besar. Bahkan di beberapa contoh, sangat besar. Pernah di suatu lomba seorang anak ditanya oleh dewan juri soal siapa yang membantunya membuat peraga sains. Si anak menjawab, “ayah dan pak guru”. Sang juri tersenyum maklum dan lanjut bertanya, “bagian mana dari peraga ini yang kamu buat?” Si anak menjawab jujur, “Tidak ada”.
Pernah saya jumpai pula, intervensi (atau dugaan intervensi) itu terasa membuat seorang anak kelas 2 SD menjadi robot perekam suara orang dewasa. Anak ini, dalam suatu lomba, memeragakan sebuah perangkat elektronik yang dioperasikan dengan menggunakan energi yang berasal dari beberapa buah lemon. Dengan mimik dan suara yang lucu ia menjelaskan, “Energi dari lemon ini bisa membantu Pak Presiden mengatasi krisis energi...” Ya, para penonton yang mendengar berdecak kagum. Sebagian bertepuk tangan. Sebuah pertunjukan yang menyenangkan, memang.
Panggung pertunjukan. Itukah yang sesungguhnya tengah terjadi pada lomba percobaan sains di negeri ini? Saya kuatir begitu. Lomba percobaan sains tampak seperti sebuah proyek orang dewasa untuk segera menyaksikan anak-anak ajaib bermunculan.
Saya berdoa dan berharap sungguh bahwa dugaan-dugaan intervensi itu adalah salah adanya. Bahwa luka yang terasa itu, hanyalah luka yang mengada-ada. Bahwa nyeri itu sekedar ilusi saja.
Akan tetapi, jika benar, maka ini sungguh merisaukan hati. Ia tak ubahnya kontes idola yang hampir setiap hari menari-nari di layar kaca. Kita tak akan memetik apa-apa. Kita tak akan tumbuh menjadi bangsa dengan karakter sains yang kuat. Kita tak bakal berevolusi menjadi bangsa yang inventif.
Padahal jika kita, para orang dewasa ini, bersabar untuk membiarkan anak-anak tumbuh dalam aktivitas sains yang bertahap dan wajar sesuai usia mereka, maka saya yakin kita akan berada di garis depan sains dan teknologi dunia kelak. Kita hanya perlu menyediakan suasana bermain sains yang menyenangkan, yang memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dunia di sekitar mereka. Kita hanya perlu mendampingi anak-anak untuk secara konsisten menaiki anak-anak tangga dengan kaki yang kokoh. Kita hanya perlu untuk berani menolak keinginan-keinginan instan.
Terakhir, ingin saya ceritakan perjumpaan saya dengan seorang guru di hari perlombaan sains itu. Kala itu Ibu guru tersebut berujar kira-kira begini, “Wah, karya dari sekolah lain canggih dan luar biasa ya. Karya murid-murid saya terlalu sederhana dan tampak kecil.” Menanggapi ujarannya yang beraroma gundah itu saya sampaikan, “Menang kalah tidak penting ibu. Justru ibu dan para murid sudah berada di jalur yang tepat.”
Jumat, 27 Maret 2009
Ekskul Sains di Sekolah
Ekskul sains di sekolah sering identik dengan beaya mahal (kadang keterlaluan) , percobaannya itu-itu saja sehingga membuat siswa akhirnya tak lagi tertantang, tidak berstruktur, dan nyaris tak memberikan pengaruh kepada peningkatan kapabilitas guru. Bertahun-tahun rumah sains ilma memikirkan bagaimana mengatasi itu semua, sehingga meluncurlah program ekskul terbaru kami di tahun ini. Kepada sekolah dan penyelenggara HS yang berminat mendapatkan informasi lebih detail, sila hubungi saya dengan disertai informasi identitas pribadi serta sekolah. Informasikan juga kabar ini kepada kenalan atau kerabat. Boleh jadi bermanfaat bagi mereka
Genie In The Bottle
Genie in the bottle adalah salah satu pertunjukan sains klasik. Walau memang agak tidak mudah mendapatkan bahan-bahannya
1. Cari bekas yang sudah tak terpakai, rusak, lalu ambil bubuk yang ada di dalamnya
2. Siapkan botol plastik bekas minuman ringan ukuran 1,5 atau 2 liter. Ukuran 600 ml juga tidak mengapa. Berdirikan di permukaan yang rata di luar ruangan
3. Masukkan sekitar 50 ml cairan Hidrogen peroksida (H2O2) ke botol
4. Masukkan bubuk baterai ke botol
Apa yang terjadi?
Tidak lama muncul asap yang membumbung keluar botol, seperti sosok jin di dongeng-dongeng. Di sertai panas yang tinggi, ditandai dengan melelehnya botol
Mengapa bisa begitu?
Bubuk baterai adalah mangaan dioksida (MnO2). Zat ini menjadi katalisator bagi reaksi pelepasan oksigen dari hidrogen peroksida, dengan reaksi seperti ini
2 H2O2 ------ H2O + O2 + panas. Gabungan oksigen dan uap air inilah yang tampak sebagai asap yang keluar dari botol
Saksikan tayangannya di Trans TV hari Minggu, 29 Maret 2009 Jam 7.30-8.00 pada program cerita anak
1. Cari bekas yang sudah tak terpakai, rusak, lalu ambil bubuk yang ada di dalamnya
2. Siapkan botol plastik bekas minuman ringan ukuran 1,5 atau 2 liter. Ukuran 600 ml juga tidak mengapa. Berdirikan di permukaan yang rata di luar ruangan
3. Masukkan sekitar 50 ml cairan Hidrogen peroksida (H2O2) ke botol
4. Masukkan bubuk baterai ke botol
Apa yang terjadi?
Tidak lama muncul asap yang membumbung keluar botol, seperti sosok jin di dongeng-dongeng. Di sertai panas yang tinggi, ditandai dengan melelehnya botol
Mengapa bisa begitu?
Bubuk baterai adalah mangaan dioksida (MnO2). Zat ini menjadi katalisator bagi reaksi pelepasan oksigen dari hidrogen peroksida, dengan reaksi seperti ini
2 H2O2 ------ H2O + O2 + panas. Gabungan oksigen dan uap air inilah yang tampak sebagai asap yang keluar dari botol
Saksikan tayangannya di Trans TV hari Minggu, 29 Maret 2009 Jam 7.30-8.00 pada program cerita anak
Minggu, 22 Maret 2009
Membakar Gula
1. Letakkan gula bata di atas tatakan logam
2. Cobalah untuk membakarnya. Tak berhasil. Gula hanya meleleh
3. Bakarlah kertas sehingga didapatkan abu yang halus
4. Gosokkan abu di permukaan gula bata, terutama di bagian sudutnya
5. Cobalah untuk membakarnya kembali
APA YANG TERJADI?
Gula bata sekarang berhasil terbakar
MENGAPA?
Gula tidak terbakar jika didekatkan ke api, hanya akan meleleh. Jika kita menggosokkan api ke permukaan gula, barulah gula bisa terbakar oleh api dan menghasilkan nyala berwarna biru. Abu bekerja sebagai katalisator atau pemicu, dan tidak ikut terbakar. Di dalam kimia katalisator adalah bahan yang membantu bahan lain untuk bereaksi, semantara ia sendiri tidak ikut bereaksi. Contoh lain katalisator dalam kehidupan sehari-hari adalah enzim yang mengubah singkong rebus menjadi tape.
Percobaan ini bersama 54 percobaan lainnya dapat dijumpai pada buku terbaru saya yang berjudul "Eksperimen keren dengan bahan di supermarket" yang baru saja diluncurkan beberapa hari lalu. Di dalamnya terdapat juga eksperimen SEMBURAN NAGA yang ditampilkan oleh Profesor Lebay pada tayangan Cerita Anak, TransTV Minggu, 15 Maret 2009 kemarin.
salam, muzi
terima kasih buat sokongan teman-teman saya. buku saya terdahulu hampir habis terjual (tinggal beberapa eksemplar saja), dan sekarang sedang persiapan cetak ulang. mudah2an Indonesia semakin "sains"
2. Cobalah untuk membakarnya. Tak berhasil. Gula hanya meleleh
3. Bakarlah kertas sehingga didapatkan abu yang halus
4. Gosokkan abu di permukaan gula bata, terutama di bagian sudutnya
5. Cobalah untuk membakarnya kembali
APA YANG TERJADI?
Gula bata sekarang berhasil terbakar
MENGAPA?
Gula tidak terbakar jika didekatkan ke api, hanya akan meleleh. Jika kita menggosokkan api ke permukaan gula, barulah gula bisa terbakar oleh api dan menghasilkan nyala berwarna biru. Abu bekerja sebagai katalisator atau pemicu, dan tidak ikut terbakar. Di dalam kimia katalisator adalah bahan yang membantu bahan lain untuk bereaksi, semantara ia sendiri tidak ikut bereaksi. Contoh lain katalisator dalam kehidupan sehari-hari adalah enzim yang mengubah singkong rebus menjadi tape.
Percobaan ini bersama 54 percobaan lainnya dapat dijumpai pada buku terbaru saya yang berjudul "Eksperimen keren dengan bahan di supermarket" yang baru saja diluncurkan beberapa hari lalu. Di dalamnya terdapat juga eksperimen SEMBURAN NAGA yang ditampilkan oleh Profesor Lebay pada tayangan Cerita Anak, TransTV Minggu, 15 Maret 2009 kemarin.
salam, muzi
terima kasih buat sokongan teman-teman saya. buku saya terdahulu hampir habis terjual (tinggal beberapa eksemplar saja), dan sekarang sedang persiapan cetak ulang. mudah2an Indonesia semakin "sains"
Minggu, 15 Maret 2009
Semburan Api Naga
Minggu pagi tadi 15 Maret 2009 adalah penampilan ke 5 dari Profesor Lebay di Cerita Anak TransTV. Sebelumnya saya ngga puas dengan performa si Profesor. Tapi hari ini, lain. Profesor Lebay tampil sangat menawan. Ia memeragakan eksperimen sains semburan api naga, yang sangat mudah tapi spektakuler.
Prinsip percobaan ini adalah menyemburkan bubuk tapioka (atau bubuk organik lain) ke udara yang berada di dekat sumber panas. Akibatnya, butiran-butiran kecil tapioka yang merupakan makanan lezat bagi proses pembakaran bertemu dengan oksigen dan api, dalam satu ketika. Jadinya adalah kobaran api yang dahsyat.
Sebetulnya bukan soal eksperimen itu semata yang membuat Profesor Lebay tampak memesona, melainkan juga pembawaannya yang lebih mengalir, lancar, rileks, dan tentu saja tetap lebay. Kehadiran Tante Jayus yang belum ada di episode sebelumnya juga memperkuat tayangan ini.
Saya tak tahu soal bagaimana rating, bagaimana pula share dari acara ini. Mungkin saja tetap kecil seperti yang lalu-lalu, walau saya sungguh berharap tidak. Sebab, jika rating dan sharenya tiarap, maka tinggal tunggu waktu saja acara ini berhenti tayang. Lalu, semakin berkuranglah tayangan yang ramah keluarga, bernilai edukasi di layar kaca kita.
Ya, ya kita memang masih layak untuk menaruh rasa optimisme. Karena masih ada sejumlah anak muda di stasiun-stasiun televisi itu yang terus mengasah kreativitas untuk menghasilkan tayangan-tayangan yang mendidik, dan juga menghibur serta disukai. Sedikit, saya mengetahui kegundahan mereka. Akan tetapi, mudah-mudahanlah itu merupakan kegundahan yang menguatkan.
Semoga, perjuangan anak-anak muda itu, didukung semua sumber daya yang peduli kepada tayangan televisi yang sehat, berhasil membawa masyarakat kita kepada sebuah tingkatan yang lebih baik. Semakin dekat kepada kemuliaan.
Prinsip percobaan ini adalah menyemburkan bubuk tapioka (atau bubuk organik lain) ke udara yang berada di dekat sumber panas. Akibatnya, butiran-butiran kecil tapioka yang merupakan makanan lezat bagi proses pembakaran bertemu dengan oksigen dan api, dalam satu ketika. Jadinya adalah kobaran api yang dahsyat.
Sebetulnya bukan soal eksperimen itu semata yang membuat Profesor Lebay tampak memesona, melainkan juga pembawaannya yang lebih mengalir, lancar, rileks, dan tentu saja tetap lebay. Kehadiran Tante Jayus yang belum ada di episode sebelumnya juga memperkuat tayangan ini.
Saya tak tahu soal bagaimana rating, bagaimana pula share dari acara ini. Mungkin saja tetap kecil seperti yang lalu-lalu, walau saya sungguh berharap tidak. Sebab, jika rating dan sharenya tiarap, maka tinggal tunggu waktu saja acara ini berhenti tayang. Lalu, semakin berkuranglah tayangan yang ramah keluarga, bernilai edukasi di layar kaca kita.
Ya, ya kita memang masih layak untuk menaruh rasa optimisme. Karena masih ada sejumlah anak muda di stasiun-stasiun televisi itu yang terus mengasah kreativitas untuk menghasilkan tayangan-tayangan yang mendidik, dan juga menghibur serta disukai. Sedikit, saya mengetahui kegundahan mereka. Akan tetapi, mudah-mudahanlah itu merupakan kegundahan yang menguatkan.
Semoga, perjuangan anak-anak muda itu, didukung semua sumber daya yang peduli kepada tayangan televisi yang sehat, berhasil membawa masyarakat kita kepada sebuah tingkatan yang lebih baik. Semakin dekat kepada kemuliaan.
Langgan:
Entri (Atom)