RUMAH SAINS ILMA

Jalan TPU Parakan No. 148
Pamulang - Tangerang Selatan
Banten
Telp. 021-32042545


- akan tiba saatnya berpikir ilmiah menjadi budaya bangsa ini

Petuah Minggu Ini :

"Obat penawar terbaik dari segala jenis kegagalan adalah : coba lagi"

- tak ingat, siapa yang pertama kali menyampaikan petuah ini

Rabu, 10 Maret 2010

Koin Logam Dingin

Mengapa koin logam yang sudah beberapa waktu dibiarkan di udara terbuka akan terasa dingin jika kita sentuhkan ke permukaan kulit kita? Ayo, eksplorasikan berbagai kemungkinan jawabannya bersama anak-anak. Ini kesempatan bagi mereka untuk menambah pengalaman melakukan kerja ilmiah. Ayo, Main Sains!

Selasa, 09 Maret 2010

Daun Ilalang Yang Menggulung

Mengamati, bertanya dan mencoba mencari jawaban dari pertanyaan itu adalah bagian penting dari upaya kita membangun cara berpikir ilmiah. Pengamatan itu tidaklah mesti berupa sesuatu yang besar, melainkan bisa juga sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah seperti yang berikut ini.
Ajak anak-anak untuk keluar rumah mencari daun ilalang. Petik daun ilalang itu dan bawa pulang ke rumah untuk diamati. Potong atau gunting daun ilalang itu sepanjang kira-kira 10 cm, dan biarkan. Setelah sekitar 15-30 menit, daun itu menggulung. Anda mungkin tahu sebabnya, tapi cobalah tanyakan kepada anak atau siswa Anda. Biarkan mereka menyusun jawaban. Apa saja. Sudah itu berikan tantangan baru : bagaimana caranya agar daun ilalang yang dipetik itu tidak menggulung? Buktikan dengan percobaan. Jika sudah berhasil, tantang lagi. Adakah cara lain?

Ayo, Main Sains!

Eksperimenku di Majalah Ummi

Mulai terbitan Maret 2010, Majalah Ummi disertai sisipan yang berbicara soal pendidikan anak. Salah satu isinya adalah Eksperimenku bersama rumah sains ilma, yang berisikan eksperimen sains sederhana yang dapat dilakukan oleh anak-anak di rumah. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu upaya lagi untuk membuat sains semakin dekat dengan dunia anak-anak Indonesia.

Program Ilma

Bagi teman-teman yang ingin mengetahui apa saja program dari rumah sains ilma, tolong kirimkan alamat emailnya ke bang_muzi@yahoo.com.au. Nanti kami akan kirim email balik yang menceritakan apa saja program dari rumah sains ilma

Senin, 15 Februari 2010

The amazing journey of the green turtles of Brazil

The warm sandy beaches of Brazil is the home of the green turtles. When the time comes to lay their eggs, the female turtles accompanied by their faithful males, swim nearly 2,250 kilometres to the tiny Ascension islands in the middle of the Atlantic Ocean. When they reach this tiny island, the male turtles remain in water.
The female turtles go ashore, lay their eggs and bury them in sand. This done, the
female turtles then hurry back into water and start their return journey to their homes in Brazil. The eggs hatch in due course and the infant turtles swim to the unknown beaches of Brazil!

Questions Questions Questions
This journey of the green turtle raises many questions. There are miles of warm beaches in Brazil. Yet, the green turtles go to the cold isolated small beaches of
Ascension Islands. Why?
How do they find this tiny island? How can they navigate to the exact place while swimming in the dark?
How do the newborn turtles find their way to the Brazilian shore that they have never seen? This mystery is part of the amazing diversity of life on earth. Such mysteries have a biological basis.

source : LEARNING SCIENCE Part 4 - Biology and Life, by Indumati Rao and C. N. R. Rao

Dialog kecilku hari ini

Tak seperti biasanya, hari ini saya ketiban rejeki menjadi fasilitator ekskul sains di sebuah SD di wilayah Karang Tengah, Lebak Bulus Jakarta Selatan. Sebuah aktivitas yang sudah amat jarang saya lakukan oleh karena sudah saatnyalah saya diganti oleh para anak muda.
Pada akhir kegiatan anak-anak diminta untuk menyelesaikan tantangan berupa kuis. Salah satu dari tantangan itu ialah membuat pertanyaan. Seperti biasa, tantangan yang satu ini dirasa paling sulit oleh anak-anak. Boleh jadi ini sebuah cerminan, bahwa bertanya belumlah menjadi ketrampilan yang diasah dengan baik oleh pendidikan di sekolah maupun di rumah.
Lalu dialog terjadi antara saya dan seorang anak perempuan, kelas 2 SD
anak : aku tidak bisa membuat pertanyaan
saya : kamu boleh bertanya apa saja. yang paling mudah saja
anak : ngga bisa
saya : wah, ternyata lebih susah buat pertanyaan daripada menjawab ya?
anak : iya
saya : bagaimana dengan Bapak dan Ibu guru yang mesti membuat pertanyaan ya?
anak : hmmh, aku nggak mau jadi guru. aku mau jadi dokter
saya : dokter perlu bertanya apa nggak?
anak : perlu
saya : jadi perlu nggak kamu berlatih bertanya supaya nanti jadi dokter yang hebat?
anak : he he. iya iya (sambil tertawa)

tak lama kemudian, ia sudah berhasil membuat pertanyaan!

Bunga Liar di Tepi Pantai

Salah satu kebiasaanku ialah membawa peralatan sains sederhana jika keluar kota. Tak terkecuali ketika kami sekeluarga berlibur ke Ujung Genteng Sukabumi, pada musim libur akhir tahun kemarin.
Pagi hari, ketika berjalan meyusuri pantai, aku menjumpai sejenis tanaman liar merambat dengan bunga berwarna merah ungu. Perasaanku memperkirakan bahwa ada "sesuatu" yang bernilai sains pada bunga itu. Segera kupetik sejumlah kuntum bunga untuk dibawa ke penginapan.
Langkah pertama kucoba melarutkannya di air biasa. Ternyata tak larut. Kemudian kuganti dengan alkohol. Berhasil. Segera saja aku memperoleh cairan berwarna merah ungu. Sesudah itu kucampur cairan itu dengan larutan soda kue. Warna berubah menjadi hijau. Kucampur dengan larutan asam sitrat, warnanya menjadi merah cerah. Benar perkiraanku. Ekstrak bunga liar itu berfungsi sebagai indikator asam basa. Hasil ini menjadi tambahan semangat dari obsesi lamaku : menyusun eksperimen sains berbasiskan kekayaan lokal. Supaya semua anak Indonesia bisa bermain sains dengan bahan yang mudah diperoleh di sekitar lingkungan mereka. Ayo, main sains!

Eksperimen Bola Kertas

Hari Jumat 12 Februari 2010 yang lalu saya membuat percobaan sederhana sebagai berikut

1 Sediakan sebuah botol plastik bekas. Buat lubang di dindingnya, kira-kira 2 cm dari bawah.
2. Remas potongan kertas sehingga membentuk bola
3. Pegang botol secara mendatar, posisi lubang yang tadi dibuat ada di sisi bawah
4. Letakkan bola kertas di leher botol
5. Tutup mulut botol dengan mulut Anda dan tiup.

Apa yang akan terjadi pada bola kertas? Sila mencoba bersama anak Anda dan mintakan pendapatnya mengapa hasilnya seperti itu.


Ayo, Main Sains!

Jumat, 04 Desember 2009

Para Guru Honorer Itu...

Para guru honorer itu menerima honor hanya 300 ribu rupiah per bulan. Bahkan ada yang cuma 150 ribu rupiah. Tapi kulihat betul kesungguhan dalam diri mereka. Ketika mengikuti pelatihan sains bersamaku dan kawanku Mas Agung Wibowo tampak sungguh semangat mereka. Hari ini (4 Des 2009) dan besok (5 Des 2009) mereka masih akan bersama mas Agung. Hari minggu lusa (6 Des) kembali bersamaku. Untuk kemudian setiap 2 minggu akan bersamaku bermain sains dengan banyak tema. Insya Allah akan ada 10 pertemuan secara keseluruhan. Kegiatan ini berhasil diselenggarakan karena kegesitan kawanku yang lain, Kang Sopyan, yang jago betul mencari dana.
Bagaimana mereka bisa bertahan dengan uang sejumlah itu untuk hidup sebulan di wilayah yang sejengkal saja dari Jakarta? Mungkin itulah bagian dari keajaiban Allah yang memang tak ada habis-habisnya.
Kupikir, berdosa sungguh diriku jika tak berbuat sesuatu. Singkat cerita, muncullah gagasan untuk mengambil sebagian hasil penjualan produk ilma dan royalty buku-bukuku untuk memulai sebuah gerakan ekonomi yang mudah-mudahan bisa membantu para guru itu. Pada saat yang sama terbayang pula anak-anak di banyak sekolah miskin yang bahkan untuk beaya fotokopipun seringkali gelagapan. Sekalian saja dana yang terkumpul (yang mudah-mudahan banyak) sebagian disalurkan untuk kegiatan sekolah mereka. Lalu terbayang pula keinginan kami yang sudah mengendap lama agar pembelajaran sains di seluruh Indonesia menjadi asyik dan menyenangkan. Salah satu cara paling efektif ialah dengan pelatihan guru. Karena aku terlibat dalam pembentukan klub guru Indonesia, pada awal-awalnya, maka melalui lembaga inilah pelatihan-pelatihan itu akan diadakan. Inilah ikhtiar. Soal hasil, terpulang kepada Ia Yang Maha Segalanya.

Model Gunung Berapi

Baru-baru ini ilma, dibantu perajin keramik dari Yogya, meluncurkan kit sains berupa model gunung berapi untuk eksperimen sains. Beratnya 72 g, tinggi 5 cm, dan lebar 5.5 cm. Harga per satuan Rp 7000. jika berminat hubungi saya atau Dony di di 021-70955693 atau 0811855693, email : dony_marpaung@yahoo.com. Dari setiap unit yang terjual akan diambil seribu rupiah untuk didonasikan kepada salah satu lembaga/kegiatan sebagai berikut :

1. gerakan kegiatan ekonomi para guru honorer yang saat ini akan dimulai dari guru di kecamatan kemang kabupaten Bogor
2. kegiatan sains di sekolah-sekolah dengan kemampuan finansial yang amat terbatas
3. pelatihan guru melalui klub guru indonesia

sesudah ini akan disusul pula oleh produk-produk ilma yang lain, termasuk royalty dari buku-buku karya saya. baru setakat ini yang bisa kami lakukan. semoga pendidikan kita menjadi lebih baik

Kit Sains Yang Mahal Harganya

Kit sains untuk SD itu, kulihat, berada dalam sebuah kotak. Ada timbangan, erlenmeyer, gelas kimia, magnet, beberapa katrol, dan lain-lain. Ia dibawa ke ruang pelatihan sains oleh guru peserta pelatihan. Ketika ditanya ada berapa kit seperti itu di sekolah, cuma satu jawabnya. Satu kit dipakai untuk puluhan anak?
Kawan saya bilang, 1 kotak kit itu berharga sekitar 2 juta. Ah, pantas saja sekolah itu hanya punya satu. Padahal, kit sains tak perlu semahal itu, dan tentu saja tak perlu "secantik" itu. Soal pengukuran volum, misalkan, tak perlulah anak SD menggunakan gelas ukur. Jauh lebih baik menggunakan bahan sehari-hari seperti tabung bekas film, bekas obat puyer, gelas plastik bekas, dan lain-lainnya. Katrol, misalkan, bisa dibuat dengan menggabungkan 2 tutup bekas minuman berkarbonasi (soft drink). Timbangan berat juga bisa dibuat dari bahan-bahan yang sangat sederhana. Uji zat pati pada bahan makanan, tak perlulah menggunakan lugol. Cukup menggunakan obat luka yang mengandung iodium. Hampir semua kit bisa diganti dengan bahan sehari-hari.
Jika harganya murah, maka kit bisa disediakan untuk semua anak. Itu artinya semua anak mendapatkan kesempatan mengalami langsung kegiatan praktek sains, mengalami langsung apa yang disebut kerja ilmiah. Inilah yang terus menerus kami kampanyekan ke sekolah-sekolah dan ke komunitas-komunitas pembelajaran. Kami yang saya maksud adalah ilma yang saya dirikan sejak 2003, lembaga-lembaga serupa ilma yang ada di banyak kota seperti Jakarta, Bandung, Malang, Jogja, Pekanbaru, Pontianak dan lain-lain, sejumlah sekolah di banyak kota yang sudah menerapkan konsep bermain sains dengan alat dan bahan sederhana yang kemudian berbagi pengalaman dengan sekolah di sekitarnya, teman-teman di homeschooling dan banyak lagi.
Akan tetapi, jangkauan mungkin akan menjadi lebih cepat meluas jika melalui dinas pendidikan. Sayangnya, kami belum menemukan jalan. Tak mengapa, perjuangan akan terus berlanjut. Suatu saat nanti berpikir ilmiah akan menjadi budaya bangsa ini. Insya Allah.

Rabu, 02 Desember 2009

Lompat Kata


Iseng-iseng saya menemukan sebuah permainan baru, sebut saja namanya "Lompat Kata". Sebenarnya ini bukan merupakan ide yang sangat baru, melainkan pengembangan dari permainan yang sudah ada sebelumnya. Tantangan dari permainan ini adalah mengubah satu kata menjadi serangkaian kata dengan kategori tertentu (misalkan nama hewan). Syaratnya adalah kata awal tadi perlu diubah menjadi kata lain (yang dikenal dalam Bahasa Indonesia) dengan cara mengganti salah satu hurufnya, tetapi tidak disertai dengan mengubah urutannya. Agar lebih jelas bisa lihat contoh gambar yang saya lampirkan.


Permainan ini bisa "dilombakan". Pemenangnya adalah yang paling banyak berhasil menemukan kata sesuai dengan kategori yang ditetapkan. Dalam contoh yang saya lampirkan adalah nama hewan. Permainan ini bisa dimainkan secara manual atau dengan menggunakan software XMIND (mind mapping) yang bisa diunduh secara gratis di http://www.xmind.net/downloads/

Mudah-mudahan permainan ini bisa menjadi senam otak yang menyehatkan dan menjadikan anak-anak kita lebih kreatif.

Rabu, 17 Juni 2009

Adventurer, Discoverer dan Forerunner

Ini adalah 3 buku terbaru dari saya dan tim pengembangan rumah sains ilma, yang merupakan bagian dari total 12 buku kegiatan sains untuk SD. 9 buku lagi akan diterbitkan secara bertahap

Adventurer 1 adalah buku kegiatan sains untuk siswa kelas 1-2 SD semester 1
Discoverer 1 adalah buku kegiatan sains untuk siswa kelas 3-4 SD semester 1
Forerunner 1 adalah buku kegiatan sains untuk siswa kelas 5-6 SD semester 1

Setiap buku terdiri dari 18 kegiatan, dengan rincian :
13 kegiatan berupa eksperimen sains
1 kegiatan berupa pembuatan peraga/mainan sains
1 kegiatan berupa pemecahan masalah
1 kegiatan berupa proyek sains dan
2 kegiatan bonus untuk eksperimen di rumah

Buku-buku ini kami harapkan dapat menjadi buku kegiatan bagi program ekskul sains , sehingga sekolah dapat melaksanakan kegiatan ekskul sains dengan menggunakan sumber daya internal. Dengan cara ini diharapkan ekskul sains dapat menjadi lebih murah lagi, sehingga terjangkau oleh lebih banyak anak.

Selain buku, terdapat pula program dukungan seperti pelatihan untuk guru, dan penyediaan kit eksperimen. Untuk informasi yang lebih mendalam, mohon hubungi nomor ilma : 32042545 atau 74631039

Bagi yang memerlukan sampel halaman untuk mempelajari isi buku-buku ini secara lebih mendalam, mohon agar mengirimkan email ke saya : bang_muzi@yahoo.com.au atau muzi@cakrawala-ilma.com, atau kakmuzi@gmail.com.

Bagi yang tertarik untuk memasarkan buku-buku tersebut sila hubungi salah satu email tadi. Untuk informasi harga sebelum diskon, Rp 20,000/buku.

Semoga kita semakin dekat kepada Indonesia yang memiliki budaya berpikir ilmiah, kreatif dan inovatif.

Botol Bocor

SEBELUM BERAKSI

Siapkan botol plastik bekas obat kumur. Buatlah 2 lubang pada dindingnya. Lubang pertama sekitar 1 sentimeter dari bawah. Ukurannya sebesar paku. Kaubisa minta tolong orang dewasa untuk membuat lubang ini dengan menggunakan paku yang dipanaskan. Lubang kedua seukuran jarum. Berada sekitar 2 sentimeter dari atas.
Masukkan botol ke dalam ember atau bak berisi air. Selagi botol berada di dalam air, pasang tutupnya. Keluarkan botol dari ember atau bak. Air akan keluar dari lubang besar di bawah. Tetapi jika lubang kecil kaututup dengan jarimu, air berhenti mengalir.

SAAT BERAKSI

Kau sudah tahu rahasianya. Jadi, datangi temanmu sambil membawa botol yang sudah kaupersiapkan. Ingat, jarimu harus menutupi lubang kecil. Katakan padanya, kaupunya botol ajaib. Tunjukkan botol itu mempunyai lubang di dindingnya, tapi ajaib air tidak keluar dari lubang itu.
Minta temanmu untuk memegang botol itu. Apa yang terjadi? Karena temanmu tidak menutup lubang kecil di bagian atas, maka air mengucur.

LHO, KOK BISA?

Air tidak bisa keluar karena di tahan oleh udara di luar botol. Kita tahu udara ada di mana-mana dan menekan ke segala arah dengan tekanan yang besar. Ketika lubang botol di sebelah atas terbuka, maka ada udara yang menekan melalui lubang ini dan membuat air memperoleh bantuan untuk mengalir keluar melalui lubang besar di dinding botol sebelah bawah.

Catatan :

Ini bagian dari buku baru saya yang judul sementaranya "Lho, Kok Bisa?

Senin, 30 Maret 2009

Sebuah Luka di Suatu Lomba Percobaan Sains

Jikalau Anda sempat menyaksikan lomba percobaan sains tingkat SD, baik yang berskala nasional maupun regional, maka boleh jadi Anda akan merasa bungah. Sebentuk Indonesia yang gemilang dan mulia tampak semakin mendekat, tinggal belasan tahun saja jaraknya. Betapa tidak, percobaan-percobaan sains yang disajikan oleh anak-anak yang tak sampai 13 usianya itu, begitu berkualitas. Begitu dewasa.

Semestinya, perasaan yang sama jugalah yang saya rasakan ketika di suatu hari yang cerah menyaksikan lomba percobaan sains tingkat SD. Tetapi tidak. Di antara cukup banyak karya canggih dari anak-anak belia itu, saya malah merasa nyeri. Pemandangan seorang anak yang tergagap-gagap menjelaskan peraga sainsnya yang “terlalu dewasa”, membuat mata saya mengabur. Ya, saya tahu, ada air mata yang mulai menghangat di kedua kelopak mata saya.

Lalu, seorang kawan bercerita bagaimana seorang dewasa memarahi seorang anak peserta lomba, lantaran tak berhasil menjelaskan karyanya kepada dewan juri dengan lancar. Ya, Tuhan. Nyaris tak ada bedanya dengan orang tua yang suka ribut mengarah-arahkan anaknya saat lomba mewarnai gambar. Kita, orang dewasa, berhutang maaf yang besar kepada anak-anak yang diperlakukan seperti itu.

Perhatian saya kemudian terhenti kepada sebuah karya kimia yang menggoda : membuat sejenis gas dari soda kaustik alias soda api atau Natrium Hidroksida. Seorang anak SD memeragakan eksperimen dengan menggunakan bahan sangat berbahaya semacam soda api? Saya tak habis pikir. Apa yang sesungguhnya tengah menimpa atau ditimpakan kepada anak-anak kita?

Seberapa jauhkah sebenarnya intervensi orang dewasa (orang tua atau guru) terhadap karya sains seorang anak SD? Saya tak punya jawabannya. Akan tetapi, merujuk kepada sejumlah pemandangan yang saya amati, intervensi itu dapat saya duga besar. Bahkan di beberapa contoh, sangat besar. Pernah di suatu lomba seorang anak ditanya oleh dewan juri soal siapa yang membantunya membuat peraga sains. Si anak menjawab, “ayah dan pak guru”. Sang juri tersenyum maklum dan lanjut bertanya, “bagian mana dari peraga ini yang kamu buat?” Si anak menjawab jujur, “Tidak ada”.

Pernah saya jumpai pula, intervensi (atau dugaan intervensi) itu terasa membuat seorang anak kelas 2 SD menjadi robot perekam suara orang dewasa. Anak ini, dalam suatu lomba, memeragakan sebuah perangkat elektronik yang dioperasikan dengan menggunakan energi yang berasal dari beberapa buah lemon. Dengan mimik dan suara yang lucu ia menjelaskan, “Energi dari lemon ini bisa membantu Pak Presiden mengatasi krisis energi...” Ya, para penonton yang mendengar berdecak kagum. Sebagian bertepuk tangan. Sebuah pertunjukan yang menyenangkan, memang.

Panggung pertunjukan. Itukah yang sesungguhnya tengah terjadi pada lomba percobaan sains di negeri ini? Saya kuatir begitu. Lomba percobaan sains tampak seperti sebuah proyek orang dewasa untuk segera menyaksikan anak-anak ajaib bermunculan.


Saya berdoa dan berharap sungguh bahwa dugaan-dugaan intervensi itu adalah salah adanya. Bahwa luka yang terasa itu, hanyalah luka yang mengada-ada. Bahwa nyeri itu sekedar ilusi saja.

Akan tetapi, jika benar, maka ini sungguh merisaukan hati. Ia tak ubahnya kontes idola yang hampir setiap hari menari-nari di layar kaca. Kita tak akan memetik apa-apa. Kita tak akan tumbuh menjadi bangsa dengan karakter sains yang kuat. Kita tak bakal berevolusi menjadi bangsa yang inventif.

Padahal jika kita, para orang dewasa ini, bersabar untuk membiarkan anak-anak tumbuh dalam aktivitas sains yang bertahap dan wajar sesuai usia mereka, maka saya yakin kita akan berada di garis depan sains dan teknologi dunia kelak. Kita hanya perlu menyediakan suasana bermain sains yang menyenangkan, yang memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dunia di sekitar mereka. Kita hanya perlu mendampingi anak-anak untuk secara konsisten menaiki anak-anak tangga dengan kaki yang kokoh. Kita hanya perlu untuk berani menolak keinginan-keinginan instan.

Terakhir, ingin saya ceritakan perjumpaan saya dengan seorang guru di hari perlombaan sains itu. Kala itu Ibu guru tersebut berujar kira-kira begini, “Wah, karya dari sekolah lain canggih dan luar biasa ya. Karya murid-murid saya terlalu sederhana dan tampak kecil.” Menanggapi ujarannya yang beraroma gundah itu saya sampaikan, “Menang kalah tidak penting ibu. Justru ibu dan para murid sudah berada di jalur yang tepat.”

Jumat, 27 Maret 2009

Ekskul Sains di Sekolah

Ekskul sains di sekolah sering identik dengan beaya mahal (kadang keterlaluan) , percobaannya itu-itu saja sehingga membuat siswa akhirnya tak lagi tertantang, tidak berstruktur, dan nyaris tak memberikan pengaruh kepada peningkatan kapabilitas guru. Bertahun-tahun rumah sains ilma memikirkan bagaimana mengatasi itu semua, sehingga meluncurlah program ekskul terbaru kami di tahun ini. Kepada sekolah dan penyelenggara HS yang berminat mendapatkan informasi lebih detail, sila hubungi saya dengan disertai informasi identitas pribadi serta sekolah. Informasikan juga kabar ini kepada kenalan atau kerabat. Boleh jadi bermanfaat bagi mereka

Genie In The Bottle

Genie in the bottle adalah salah satu pertunjukan sains klasik. Walau memang agak tidak mudah mendapatkan bahan-bahannya

1. Cari bekas yang sudah tak terpakai, rusak, lalu ambil bubuk yang ada di dalamnya
2. Siapkan botol plastik bekas minuman ringan ukuran 1,5 atau 2 liter. Ukuran 600 ml juga tidak mengapa. Berdirikan di permukaan yang rata di luar ruangan
3. Masukkan sekitar 50 ml cairan Hidrogen peroksida (H2O2) ke botol
4. Masukkan bubuk baterai ke botol

Apa yang terjadi?
Tidak lama muncul asap yang membumbung keluar botol, seperti sosok jin di dongeng-dongeng. Di sertai panas yang tinggi, ditandai dengan melelehnya botol

Mengapa bisa begitu?
Bubuk baterai adalah mangaan dioksida (MnO2). Zat ini menjadi katalisator bagi reaksi pelepasan oksigen dari hidrogen peroksida, dengan reaksi seperti ini

2 H2O2 ------ H2O + O2 + panas. Gabungan oksigen dan uap air inilah yang tampak sebagai asap yang keluar dari botol

Saksikan tayangannya di Trans TV hari Minggu, 29 Maret 2009 Jam 7.30-8.00 pada program cerita anak

Minggu, 22 Maret 2009

Membakar Gula

1. Letakkan gula bata di atas tatakan logam
2. Cobalah untuk membakarnya. Tak berhasil. Gula hanya meleleh
3. Bakarlah kertas sehingga didapatkan abu yang halus
4. Gosokkan abu di permukaan gula bata, terutama di bagian sudutnya
5. Cobalah untuk membakarnya kembali


APA YANG TERJADI?
Gula bata sekarang berhasil terbakar

MENGAPA?
Gula tidak terbakar jika didekatkan ke api, hanya akan meleleh. Jika kita menggosokkan api ke permukaan gula, barulah gula bisa terbakar oleh api dan menghasilkan nyala berwarna biru. Abu bekerja sebagai katalisator atau pemicu, dan tidak ikut terbakar. Di dalam kimia katalisator adalah bahan yang membantu bahan lain untuk bereaksi, semantara ia sendiri tidak ikut bereaksi. Contoh lain katalisator dalam kehidupan sehari-hari adalah enzim yang mengubah singkong rebus menjadi tape.

Percobaan ini bersama 54 percobaan lainnya dapat dijumpai pada buku terbaru saya yang berjudul "Eksperimen keren dengan bahan di supermarket" yang baru saja diluncurkan beberapa hari lalu. Di dalamnya terdapat juga eksperimen SEMBURAN NAGA yang ditampilkan oleh Profesor Lebay pada tayangan Cerita Anak, TransTV Minggu, 15 Maret 2009 kemarin.



salam, muzi
terima kasih buat sokongan teman-teman saya. buku saya terdahulu hampir habis terjual (tinggal beberapa eksemplar saja), dan sekarang sedang persiapan cetak ulang. mudah2an Indonesia semakin "sains"

Minggu, 15 Maret 2009

Semburan Api Naga

Minggu pagi tadi 15 Maret 2009 adalah penampilan ke 5 dari Profesor Lebay di Cerita Anak TransTV. Sebelumnya saya ngga puas dengan performa si Profesor. Tapi hari ini, lain. Profesor Lebay tampil sangat menawan. Ia memeragakan eksperimen sains semburan api naga, yang sangat mudah tapi spektakuler.

Prinsip percobaan ini adalah menyemburkan bubuk tapioka (atau bubuk organik lain) ke udara yang berada di dekat sumber panas. Akibatnya, butiran-butiran kecil tapioka yang merupakan makanan lezat bagi proses pembakaran bertemu dengan oksigen dan api, dalam satu ketika. Jadinya adalah kobaran api yang dahsyat.

Sebetulnya bukan soal eksperimen itu semata yang membuat Profesor Lebay tampak memesona, melainkan juga pembawaannya yang lebih mengalir, lancar, rileks, dan tentu saja tetap lebay. Kehadiran Tante Jayus yang belum ada di episode sebelumnya juga memperkuat tayangan ini.

Saya tak tahu soal bagaimana rating, bagaimana pula share dari acara ini. Mungkin saja tetap kecil seperti yang lalu-lalu, walau saya sungguh berharap tidak. Sebab, jika rating dan sharenya tiarap, maka tinggal tunggu waktu saja acara ini berhenti tayang. Lalu, semakin berkuranglah tayangan yang ramah keluarga, bernilai edukasi di layar kaca kita.

Ya, ya kita memang masih layak untuk menaruh rasa optimisme. Karena masih ada sejumlah anak muda di stasiun-stasiun televisi itu yang terus mengasah kreativitas untuk menghasilkan tayangan-tayangan yang mendidik, dan juga menghibur serta disukai. Sedikit, saya mengetahui kegundahan mereka. Akan tetapi, mudah-mudahanlah itu merupakan kegundahan yang menguatkan.

Semoga, perjuangan anak-anak muda itu, didukung semua sumber daya yang peduli kepada tayangan televisi yang sehat, berhasil membawa masyarakat kita kepada sebuah tingkatan yang lebih baik. Semakin dekat kepada kemuliaan.

Senin, 09 Maret 2009

Cairan Sensi

Eksperimen cairan sensi ditayangkan di Program Cerita Anak yang ditayangkan pada tanggal 1 Maret 2009. Videonya dapat ditonton di sini : http://www.transanak.co.id/id/nontonyuk.php?id=481

Pada tayangan itu Profesor Lebay memeragakan sebuah cairan biru yang berubah menjadi kuning setelah diledeki habis-habisan. Apakah cairan itu memang benar-benar punya perasaan sehingga berubah warna setelah diledeki? Tentu saja tidak.

Cairan sensi itu berisikan larutan indikator Bromothymolblue (BTB) di dalam larutan yang sedikit basa. Dalam kondisi ini, warnanya biru. Selama diledeki, gas karbondioksida dari nafas yang dihembuskan bereaksi dengan air dan membentuk asam karbonat (H2CO3). Kehadiran asam ini membuat kondisi larutan menjadi sedikit asam dan BTB berubah menjadi kuning.

BTB dapat dibeli di toko-toko kimia yang besar, atau kalau mau lebih mudah klik saja : http://sciencesupershop.com/index.php?main_page=product_info&cPath=68&products_id=188.

Jangan lupa tonton terus cerita anak ya. Pada episode tanggal 15 Maret Profesor Lebay akan membuat semburan naga yang dahsyat.